FIFA Minta Kameramen Tak Lagi Menyorot Suporter Cantik



KampusBola.com –

Jakarta – Piala Dunia 2018 di Rusia ternyata tak hanya menjadi ajang bagi pesepakbola untuk unjuk kemampuan mengolah bola. Namun, Piala Dunia kali ini banyak para suporter cantik yang hadir dari berbagai negara.

FIFA Minta Kameramen Tak Lagi Menyorot Suporter Cantik

Meskipun demikian, FIFA merasa geram dengan sorotan kamera kepada para wanita cantik di tribun penonton. Bahkan petinggi FIFA, Federico Addiechi telah meminta media-media yang menyiarkan Piala Dunia mengurangi sorotan kamera ke arah para suporter cantik di tribun.

Baca juga : Sempat Kolaps, Bagaimana Kondisi Terkini Bek Persebaya ?

Federico Addiechi juga meyakini jika FIFA sebagai badan sepakbola tertinggi di dunia harus membantu mengatasi seksisme pada Piala Dunia.

Kelompok anti diskriminasi Fare Network mengungkapkan bahwa seksisme menjadi masalah besar di perhelatan Piala Dunia 2018 Rusia kali ini. Terutama banyak perempuan Rusia yang kerap disapa dengan nada melecehkan di jalan-jalan.

“Kami sudah menangani kasus itu yang menimpa penyiar. Kami melakukan dengan layanan siaran kami,” ujar Addiechi kepada BBC Sport.

“Ini salah satu yang akan kami terapkan di masa mendatang. Ini perubahan yang normal,” tambahnya.

Selama perhelatan Piala Dunia 2018, Getty Images mengeluarkan galeri foto bertajuk ‘Suporter Paling Seksi di Piala Dunia’. Setelah itu, pihak Getty Images langsung menarik konten tersebut karena banyaknya protes yang datang.

(Okto – Satupedia.com)

Hadapi Prancis di Final, Kroasia Usung Misi Balas Dendam



KampusBola.com –

Jakarta – Kroasia berhasil mendapatkan satu tiket ke partai final Piala Dunia 2018 usai mengalahkan Inggris pada babak semi-final dengan skor 2-1 di Stadion Luzhniki, Moscow, Kamis (12/07/18) dini hari tadi.

Hadapi Prancis di Final, Kroasia Usung Misi Balas Dendam

Kroasia pun sudah ditunggu oleh Prancis di laga final Piala Dunia. Prancis sendiri juga berhasil malaju ke final usai menumbangkan Belgia dari semifinal, Rabu (11/07/18) dini hari kemarin.

Baca juga : FIFA Minta Kameramen Tak Lagi Menyorot Suporter Cantik

Pertandingan final Piala Dunia 2018 antara Prancis vs Kroasia bakal berlangsung di Stadion Luzhniki, Minggu (15/06/18) pukul 22.00 WIB malam mendatang.

Dikutip dari fifa.com, Kroasia mampu menembus babak semifinal untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 1998. Pada waktu itu mereka harus tersingkir usai kalah dari Prancis.

Sebelum mengalahkan Inggris, Perdana Menteri Kroasia, Andrej Plenkovic mengunjungi hotel tempat tim menginap dan mengajak semua pemain untuk balas dendam ke Prancis.

“Kita mungkin punya kesempatan untuk membalaskan dendam di final menghadapi Prancis, dendam yang sudah bertahan 20 tahun lalu,” ucap Plenkovic dilansir dari sportskeeda.com.

Kroasia pun berhasil melaju ke final Piala Dunia 2018 dan akan bertemu dengan Prancis.

“Kita punya peluang bagus untuk membalas dendam kami 20 tahun yang lalu, ketika mereka melaju ke final. Mungkin ini waktunya untuk kami membalaskan dendam, tapi ini akan menjadi laga yang sulit,” ucap Lovren kepada laman resmi FIFA.

(Okto – Satupedia.com)

Philipp Lham Yakin Jerman Bakal Lebih Kuat Lagi



KampusBola.com –

Jakarta – Jerman secara mengejutkan mengalami kegagalan di babak fase grup Piala Dunia 2018. Hal tersebut membuat banyak pihak kecewa, terkhusus para penggemar Jerman sendiri. Namun, legenda Jerman, Philipp Lahm justru meyakini jika Die Panzer bakal berkembang lebih kuat lagi.

Philipp Lham Yakin Jerman Bakal Lebih Kuat Lagi

Philipp Lahm

Jerman sendiri datang dengan status sebagai juara bertahan, namun mereka harus angkat kaki lebih awal usai mengalami dua kekalahan di babak fase grup lalu. Sebenarnya, Jerman masih memiliki peluang untuk lolos jika mampu menang kontra Korea Selatan di laga pamungkas fase grup. Namun, Jerman kurang beruntung karena harus kalah dengan skor 0-2 dari Korea Selatan.

Baca juga : Madrid Pinjamkan Bek Mudanya Ke Dortmund

Lahm sendiri merasa tak rela jika gelar juara akan diberikan kepada sang pemenang pada hari Minggu nanti. Namun di sisi lain, Lahm juga meyakini jika Jerman bakal merebutnya kembali pada suatu hari nanti.

“Saya akan memberikan kebanggaan yang sepakbola Jerman telah rasakan dalam empat tahun terakhir. Kebanggaan ini akan diserahkan kepada sang pemenang,” ujar Lahm seperti yang dikutip dari Sportskeeda.

“Ini akan menjadi momen yang menyedihkan bagi kami dan Jerman, sekaligus jadi dorongan untuk memenangkannya kembali,” lanjutnya.

Meskipun tersingkir dengan menjadi juru kunci di fase grup, namun Lahm tetap yakin jika Jerman akan segera berbenah diri. Bahkan Lahm juga sangat optimis bisa melihat negaranya bangkit dan menjadi lebih kuat di masa yang akan datang.

“Membangun sebuah tim yang bisa menjuarai Eropa dan Dunia adalah sebuah proses yang sedang berjalan dan butuh sedikit keajaiban,” tambahnya.

“Saya yakin mereka punya kekuatan untuk kembali lebih kuat, dan mengembangkan generasi baru yang bisa hidup dengan perkataan Gary Lineker yang terkenal, ‘sepakbola adalah permainan yang sederhana. 22 orang mengejar bola selama 90 menit dan pada akhirnya, Jerman yang menang’,” pungkasnya.

Partai final Piala Dunia 2018 bakal mempertemukan Prancis dengan Kroasia yang akan digelar pada hari Minggu (15/7) mendatang di Luzhniki Stadium, Rusia.

(Okto – Satupedia.com)

Pickford Merasa Inggris Kurang Tajam Dalam Memanfaatkan Peluang



KampusBola.com –

Jakarta – Kiper timnas Inggris, Jordan Pickford mengungkapkan bahwa timnya kurang tajam dalam memanfaatkan peluang yang didapatkan. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab tersingkirnya Inggris dari Piala Dunia 2018 usai kalah dari dengan skor 1-2 pada laga semifinal, Kamis (12/7/2018) di Stadion Luzhniki, dini hari WIB.

Pickford Merasa Inggris Kurang Tajam Dalam Memanfaatkan Peluang

Sebenarnya Inggris mampu unggul lebih dahulu lewat gol tendangan bebas Kieran Tripier pada menit ke-5. Namun, tim asuhan Zlatko Dalic mampu menyamakan kedudukan lewat Ivan Perisic pada menit ke-68 dan Mario Mandzukic menjadi penentu lolosnya Kroasia ke partai puncak lewat golnya pada menit ke-109.

Baca juga : Benarkah Kostum Ini Membawa Sial Bagi Timnas Inggris ?

Setelah pertandingan, Jordan Pickford pun mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang membuat Inggris harus pulang dari Rusia adalah ketidakmampuan dalam memanfaatkan peluang.

“Ini adalah pengalaman bagi kami dan satu hal yang kami inginkan adalah kemenangan,” ujar Jordan Pickford dikutip dari BBC.

“Mungkin kami terlalu cepat, kami membutuhkan gol berikutnya untuk mematikan laga dan kami memiliki beberapa peluang bagus tetapi tidak pernah mengirim mereka pulang.”

“Sebuah tim seperti Kroasia, kami tahu ancaman mereka berlanjut, mereka memiliki beberapa pemain berkualitas. Kami harus melewati beberapa badai,” tuturnya.

Pickford juga merasa sangat optimis jika Inggris bakal segera bangkit usai disingkirkan oleh Kroasia

“Lihatlah para penggemar malam ini, ada hal yang mengganjal di di tenggorokan saya menyaksikan para fans bertepuk tangan kami di akhir laga,” ujar Jordan Pickford menambahkan.

“Saya merasa bahwa sebagai bangsa kita telah maju dan semoga ada lebih banyak yang datang di masa depan.”

(Okto – Satupedia.com)

Benarkah Kostum Ini Membawa Sial Bagi Timnas Inggris ?



KampusBola.com –

Jakarta – Inggris harus memupuskan ambisinya untuk meraih gelar juara Dunia usai menelan kekalahan dengan skor 1-2 dari Kroasia di partai Semi-final Piala Dunia di Stadion Luzhniki, Rabu (11/7/2018). Namun ada yang menduga bahwa ada faktor lain sebagai penyebab kekalahan Inggris.

Benarkah Kostum Ini Membawa Sial Bagi Timnas Inggris ?

Percaya atau tidak, bahwa faktor kostum menjadi salah satu penyebab kegagalan timnas Inggris menembus final Piala Dunia 2018. Inggris sendiri harus bertanding mengenakan warna putih dari mulai jersey, celana, sampai kaos kaki.

Baca juga : Wajah Sedih Fans Inggris Usai Gagal Ke Final Piala Dunia 2018

Dalam catatan sejarah, Inggris lebih sering sial setiap berlaga di Piala Dunia dengan memakai setelan seragam tersebut. Dari 10 penampilan mengenakan jersey serba-putih, termasuk melawan Kroasia, maka Inggris pun hanya mampu menuai dua kemenangan.

Hasil lainnya adalah mereka tiga kali kalah dan menuai empat seri. Sementara dua kemenangan Inggris didapat dari lawan yang sama, yakni Argentina (1962 dan 1966).

Apakah kegagalan Inggris kali ini juga dikarenakan faktor kostum ?. Percaya atau tidak, itu terserah Anda.

(Okto – Satupedia.com)